Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

SELAMAT MERAYAKAN HARI KEMENANGAN

AYAH SYIFA MENGUCAPKAN MINAL AIDIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Sabtu, 03 November 2007

SURAT UNTUK SARIFUDIN

seperti ceritamu malam ini
aku juga ingin berbagi
mungkin kau sangsi tadi siang aku melewati kamu
melemparkan kesombongan lama yang tak pernah terlepas
sejak dulu lagi sampai pada titik kulminasi keangkuhan yang mendera
dikisikisi hari terus berlari berlomba mencari yang terbaik diantara kita

seharusnya kau tetap disini
menemani pertapa tua yang setia menunggu embun atau hujan
menjadi permandian kita ketika ditarik ke rawa dan paya yang melintas diotak gelisah

seperti ceritamu malam ini
aku ingin berbagi
kesangsian melintas lagi
dibawa gagak melepaskan sayapnya ketika menarik kamu yang setia
menemani malam disuguhkan cerita sama dari bibir mungil terselip sebatang rokok

seperti ceritamu malam ini
aku berbagi
bahwa kamu mulai mengukur resah yang meluap melebihi banjir
pernah kita nyatakan disepanjang kapuas berenang gadis muda
membelai malam seperti ular yang setia menunggu adam dan hawa

“mungkin kita tak usah berbagi,
katakanlah malam ini kita tak pernah bertemu”

Pontianak 25 September 2001 Lanjut..

MIMPI ANAK NEGERI

bercerita kita pada senja yang lemparkan semburat cahaya
pada awan tak bening lagi merona jingga digedunggedung
hilangkan kedamaian pada anak negeri menatap kosong

rimba hilang sekelip mata menjelma raksasaraksasa menggeliat
dalam arus perubahan jiwa kita anak negeri kosong
lalu bengong dalam lolong srigala kesiangan dari cerita nenek menggoda burungburung hantu
terkantuk dalam ciuman putri malam menggoda lakon tak tahu sebenarnya akhir pergulatan
pesona yang didambakan berpijar singkat dalam balutan tawaktawak dan gong
anak negeri yang memanggil mantramantra menyulam bulu enggang terlepas
dan tersangkut di belianbelian ribuan tahun lampau semakin rapuh


Pontianak, 10 Januari 2000 Lanjut..

Senin, 22 Oktober 2007

TETAP PANGGIL AKOE AYAH

: disaat koetulis puisi ini kau masih berusia tiga tahun

mungkin jika kau telah besar nanti kau temukan dikertaskertas usang
yang tersimpan dilemari yang jang juga usang ada sekumpulan puisi jika usiakoe tak panjang lagi.
jangan kau jadikan puisi yang terserak itu sebagai teman setiamu
sebab telah gagal ayahmu menjadi seorang penyair
: terngiang katakata ketika seorang penyair telah kenyang
ia akan kehabisan katakata untuk ditulis
itu lah akoe yang telah kenyang menjauh dari rangkaian kata yang pernah melaju tanpa batas menjadikan akoe satu diantara mereka yang pernah mendapatkan predikat sastrawan muda kalimantan barat

syifa, kau jangan mengikuti jejakjejakkoe yang tersimpan dilemari usang jadilah dirimu sendiri tanpa perlu kau memandang pada keindahan bulan dikala purnama atau kau petik bintangbintang yang damai ditaman angkasa untuk kau rangkai mengikuti jejakkoe
karena puisi hanyalah kebohongan penyair untuk menutup kelaparan perasaan akan ketimpangan sosial yang dicipatkan oleh robotrobot politik

syifa anakkoe catat dan buktikanlah hanya penyair yang dapat mengungkapkan kebenaran tanpa ada niatan apaapa demi kebaikan keadaan dan kau jangan bongkar lemari usang itu tanpa kau mengerti dilemari itu ada setumpuk kebenaran dari kelaparan yang koerasakan

syifa anakkoe hanya penyair yang peka akan keadaan ketika aceh tergulung gelombang, yogya banjir air mata, lapindo disidoarjo atau satya kencana yang memakan ratusan nyawa menjadi awal petaka, dan adam tak menemukan hawa, hanya penyair yang dapat merangkai kata seindah mungkin menjadi penyejuk hati ketika banyak yang menyebarkan pesona

politik anakkoe! politik adalah alat ampuh membunuh saudarasaudara kita
: akoe tak ingin kau menjadi pembunuh.
akoe hanya ingin kau anakkoe mengikoet jejak ibumu mencerdaskan bangsa dalam segala kekoerangan yang ada.

mungkin ketika kau buka lemari ini, kau tetap memanggilkoe : a y a h !

Ketapang, 29 April 2007 Lanjut..

RINDUKOE TANAH LELUHURKOE

: nasibkoe, takdirkoe

malamkoe berkeluhkesah pada angin melintas
membawa segurat kehampaan pada jiwakkoe semakin kerontang
kepakan burung hantu dan nyanyian jangkrik
memang sedikit memaksa memicingkan mata

: kerinduan akan tanah leluhur mengajakkoe bermain dalam renjana ini
takdir mungkin berkata lain, lahir dari rahimrahim penyihir tua
mencari kebenaran pada embunembun menetes tak juga melembabkan jiwaku yang rindu pada tanah leluhur
: bermandikan cahaya bulan berlari diantara bintangbintang
menari jangkrik bernyanyi

tanah leluhur disana telah terkubur bayangkoe, tangiskoe, tawakoe
tanah leluhur disana telah terkubur khayalkoe
tapi nasibkoe ada ditanganMu
walau ditanah barukoe, nasib mungkin masih tertinggal di tanah leluhurkoe

memang malamkoe selalu mampir memburu kesepian tak beranjak selalu terpatri
tak bisa ia berlari karena lelah jiwajiwakoe memang harus selalu tersisa di sini
: bukan di tanah leluhurkoe

tanah leluhurkoe dimana bayangkoe tersisa, tangiskoe tertinggal, tawakoe tenggelam
tanah leluhurku dimana tersobek kenangkoe, nasibkoe
atau malamku yang berkeluh kesah pada angin tetap melintas begitu saja

Ketapang, 20 Oktober 2007 Lanjut..

Minggu, 30 September 2007

PERAHU DARI AIR MATA

air mata yang kita teteskan disini tak mampu mengikis
batu yang telah bertahun menanti
perlu kau garisbawahi kita hadir disini selalu bersama menelanjangi
mencari sosok begitu kental
: kita merasakan angin dingin membelai wajah
tersadar bahwa kita larut dalam botol botol

perlu kau catat bukan pula kita yang membakar embun
semula damai bersama malam lalu air mata yang kita tumpahkan telah menjelma menjadi perahu berlayar dan terus berlayar
mengarungi usia kita yang semakin berlari


Pontianak, 1 Oktober 2001 Lanjut..

MATAHARI DILACI MEJA

Matahari ini telah lama kita simpan dilaci meja
menemani perabotan usang dan tikustikus
telah menjadi bangkai
tak mampu lagi menggerogoti ketenangan

kotak dilaci meja telah usang pula
bersliweran menatap masa depan dalam panas hujan amoniak
seorang pejalan tetap terpincang
mencari matahari yang kita sembunyikan dilaci meja


Pontianak, 15 Februari 2002 Lanjut..

KEPADA TUAN “H”

negeri ini

moyang kita pernah menari mengikuti tembang tembang hutan

kini hilang di matamu

aku hanya termangu ketika nenek bercerita kembali

tentang negeri kayong

: aleale telah berbaris menanti bayangmu yang terlupakan

bahwa berjuta tangan terlalu ingin merasakan sentuhan midasmu

Pontianak, Februari 2002

Lanjut..

W A J A H

: a.v.

malam kelam ini lagi, mengukir kamu

yang hilang dibotolbotol tua berserakan pasti disetiap sudut kamar

menjadi wajah dalam pecahan kaca ketika kita tetap setia menunggu putaran jarum jam beredetak

(aku lupa daratan)

terombang ambing digemuruh yang tak bertepi

terus mendera mencari arus dapat membawa

lukisan wajah yang merapuh

(sebentar lagi kau luruh)

seperti aku yang jatuh

Pontianak,16-02-2001

Lanjut..